Fish

Minggu, 17 Maret 2013

Fungsi dalam Bimbingan dan Konseling

FUNGSI-FUNGSI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING

Dalam kelangsungan proses bimbingan dan konseling, terdapat berbagai pelayanan yang sengaja diciptakan dan diselenggarakan.  Keuntungan ataupun jasa yang diperoleh dari adanya suatu pelayanan merupakan hasil dari fungsi sebuah pelayanan. Suatu pelayanan dikatakan tidak akan berfungsi jika ia tidak bisa memperlihatkan kegunaan ataupun tidak bisa memberikan manfaat atau keuntungan tertentu. Dalam bimbingan dan konseling fungsi bimbingan dan konseling ditinjau dari kegunaan atau manfaat. Ataupun keuntungan-keuntungan apa yang diperoleh melalui pelayanan tersebut. Berikut ini adalah beberapa fungsi bimbingan dan konseling, antara lain:
1.       Fungsi Pemahaman
Fungsi bimbingan konseling dimana konseli diharapkan mampu memahami segala potensi yang dimilikinya, lingkungan sekitar klien, serta permasalahan yang sedang dihadapinya. Fungsi pemahaman adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik. Pemahaman sangat perlu dihasilkan  oleh pelayanan bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya oleh klien sendiri dan oleh pihak-pihak yang akan membantu klien (konselor), serta pemahaman tentang lingkungan  klien dan klien.
v  Pemahaman tentang klien
Sebelum seorang konselor atau pihak-pihak lain dapat memberikan bantuan pelayanan tertentu pada klien, maka mereka perlu terlebih dahulu memahami individu yang akan dibantu. Materi pemahamannya dapat dikelompokkan ke dalam berbagai data tentang:
·       Identitas individu (klien): nama, jenis kelamin, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
·       Pendidikan.
·       Status perkawinan (klien dewasa).
·       Status sosial-ekonomi dan pekerjaan.
·       Kemampuan dosen, bakat, minat, hobi.
·       Kesehatan
·       Kecenderungan sikap dan kebiasaan.
·       Cita-cita pendidikan dan pekerjaan,
·       Keadaan lingkungan tempat tinggal.
·       Kedudukan dan prestasi yang pernah dicapai.
·       Kegiatan sosial kemasyarakatan.
Untuk individu yang masih mengikuti jenjang pendidikan tentu perlu ditambahkan:
·       Jurusan atau program studi yang diikuti.
·       Mata pelajaran yang diambil, nilai-nilai yang diperoleh dan prestasi menonjol ynag pernah dicapai.
·       Kegiatan ekstrakurikuler.
·       Sikap dan kebiasaan belajar.
·       Hubungan dengan teman sebaya.
Pemahaman konselor terhadap klien dipergunakan oleh konselor baik untuk secara langsung membantu klien dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara lebih lanjut, maupun sebagai bahan acuan utama dalam rangka kerjasama dengan pihak-pihak lain dalam membantu klien. Bagi konselor, upaya mewujudkan fungsi pemahaman merupakan tugas awal dalam setiap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap individu tertentu.
v  Pemahaman tentang masalah klien
Pelayanan bimbingan dan konseling jika tanpa adanya pemahaman terhadap masalah klien, penanganan terhadap masalah itu tidak mungkin dilakukan. Pemahaman terhadap masalah klien terutama menyangkut jenis masalahnya, intensitasnya, sangkut-pautnya, sebab-sebabnya, dan kemungkinan berkembangnya. Klien amat perlu memahami masalah yang sedang dialaminya, sebab dengan memahami masalahnya itu ia memiliki dasar bagi upaya yang akan ditempuhnya untuk mengatasi masalahnya itu. Bagi para siswa yang perkembangan dan kehidupannya masih amat banyak dipengaruhi oleh orang tua dan guru, pemahaman masalah juga diperlukan oleh orang tua dan guru siswa yang bersangkutan. Pemahaman masalah siswa sama gunanya dengan pemahaman tentang individu pada umumnya oleh orang tua dan guru, yaitu untuk kepentingan berkenaan dengan perhatian dan pelayanan orang tua terhadap anak, dan pengajaran oleh guru terhadap siswa.
v  Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas
Lingkungan yang lebih luas meliputi, lingkungan sekolah bagi para siswa, lingkungan kerja dan industri bagi karyawan, dan lingkungan-lingkungan kerja bagi individu-individu sesuai dengan sangkut-pautnya masing-masing. Sebagai siswa harus bisa memahami dengan baik lingkungan sekolah, yang meliputi lingkungan fisik, berbagai hak dan tanggungjawab siswa terhadap sekolah, peraturan yang harus ditaati, dan lain sebagainya.
2.       Fungsi Pencegahan
Fungsi pencegahan adalah fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan tertentu dalam perkembangannya. Layanan bimbingan dapat berfungsi pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Bagi konselor profesional yang misi tugasnya dipenuhi dengan perjuangan untuk menyingkirkan berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangan individu, pencegahan tidak sekedar merupakan ide yang bagus, tetapi adalah suatu keharusan yang bersifat etis (Horner & Mc.Elhaney, 1993). Oleh karena itu pelaksanaan fungsi pencegahan bagi konselor merupakan bagian dari tugas kewajibannya yang amat penting.
Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan dapat berupa program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan sebagainya. Berikut ini adalah arah upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh konselor, yaitu:
1)     Mendorong perbaikan lingkungan yang kalau diberikan akan berdampak negatif terhadap individu yang bersangkutan.
2)     Mendorong perbaikan kondisi pada diri pribadi klien.
3)     Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-hal yang diperlukan dan mempengaruhi perkembangan dan kehidupannya.
4)     Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan memberikan resiko yang besar, dan melakukan sesuatu yang akan memberikan manfaat.
5)     Menggalang dukungan kelompok terhadap individu yang bersangkutan.
Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanan fungsi pencegahan. Kegiatannya antara lain dapat berupa program-program yang nyata. Secara garis besar, program-program tersebut dikembangkan, disusun, dan diselenggarakan melalui tahap-tahap :
·         Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul.
Misalnya di sekolah, kemungkinan masalah yang timbul adalah para siswa kurang disiplin; gagal menjawab soal-soal ulangan; pertentangan antar teman, antar kelas, antar sekolah; kurang menghargai guru; tidak suka pada salah satu mata pelajaran.
·         Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab timbulnya masalah-masalah. Dalam hal ini kajian teoretik dan studi lapangan perlu dipadukan.
·         Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masalah tersebut.
·         Menyusun rencana program pencegahan.
Rencana ini disusun berdasarkan spesifikasi permasalahan yang hendak dicegah timbulnya, hasil kajian teoretik dan studi lapangan, peranan pihak-pihak terkait, faktor-faktor operasional dan pendukung, seperti waktu, tempat, biaya, dan perlengkapan kerja.
·         Pelaksanaan dan monitoring.
Pelaksanaan program sesuai dengan rencana dengan kemungkinan modifikasi yang tidak mengganggu pencapaian tujuan dengan persetujuan pihak-pihak yang terkait.
·         Evaluasi dan laporan.
Evaluasi dilakukan secara cermat dan obyektif. Laporannya diberikan kepada pihak-pihak terkait untuk dipergunakan sebagai masukan bagi program sejenis lebih lanjut.
Program-program yang disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap tersebut biasanya merupakan program-program resmi yang diselenggarakan untuk sekelompok individu di lembaga tempat konselor bekerja. Kegiatan pencegahan yang lebih sederhana dan bersifat tidak resmi dapat direncanakan langsung dengan konseli yang bersangkutan dan langsung pula diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling terhadap siswa tersebut. Dalam hal ini, pemahaman terhadap siswa dan permasalahan siswa, serta unsur-unsur pemahaman terhadap bimbingan yang lebih luas menjadi dasar bagi kegiatan pencegahan yang dimaksudkan.

3.       Fungsi Pengentasan
Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah dilakukan, namun mungkin saja konseli yang ada di sekolah masih menghadapi masalah-masalah tertentu. Individu yang mengalami masalah akan merasa ada sesuatu yang tidak nyaman pada dirinya. Konseli yang mengalami masalah akan datang pada konselor dengan tujuan untuk dientaskannya masalah yang tidak mengenakkan dari dirinya. Di sinilah fungsi pengentasan (perbaikan) itu berperan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami klien.
Ø  Langkah-langkah pengentasan masalah
Upaya pengentasan masalah pada dasarnya dilakukan secara perorangan, sebab setiap masalah adalah unik. Masalah-masalah yang dihadapi individu yang berbeda tidak boleh disamakan. Dengan demikian penanganannny pun harus secara unik disesuaikan terhadap kondisi masing-masing dari masalah itu. Untuk itu konselor perlu memiliki ketersediaan dari berbagai bahan dan keterampilan untuk menangani berbagai masalah yang beraneka ragam.
Ø  Pengentasan masalah berdasarkan diagnosis
     Model diagnosis yang diterima dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah model-model diagnosis pemahaman, yaitu mengupayakan pemahaman masalah klien, yaitu pemahaman terhadap seluk-beluk masalah klien, termasuk di dalamnya  perkembangan dan sebab-sebab timbulnya masalah. Disini ada tiga dimensi diagnosis, yaitu :
1)     Diagnosis mental/psikologis mengarah kepada pemahaman tentang kondisi mental/psikologis klien.
2)     Diagnosis sosio-emosional mengacu pada hubungan sosial klien dengan orang-orang yang amat besar pengaruhnya terhadap klien.
3)     Diagnosis instrumental berkenaan dengan kondisi atau prasyarat yang diperlukan terlebih dahulu sebelum individu mampu melakukan atau mencapai sesuatu.
Ø  Pengentasan masalah berdasarkan teori konseling
Teori konseling pada umumnya dilengkapi dengan teori tentang kepribadian individu, perkembangan tingkah laku individu yang dianggap sebagai masalah, tujuan konseling, serta proses dan teknik-teknik khusus konseling. Tujuan dari teori-teori tersebut adalah mengentaskan masalah yang diderita oleh klien dengan cara yang paling cepat, cermat, dan tepat. Meskipun tujuan umumnya sama, namun  dari segi teori prinsip-prinsip dan unsur-unsur teknis operasional rasional masing-masing dari teori konseling itu sering kali tidak sama, bahkan ada pula yang bertolak belakang.

4.       Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi pengembangan (development), yaitu bantuan yang diberikan konselor kepada siswa agar ia mampu mengembangkan diri secara optimal. Siswa menyadari akan potensi yang dimiliki akan berusaha memanfaatkan potensi tersebut dengan sungguh-sungguh.
Bimbingan berfungsi preventif, pencegahan terjadinya atau timbulnya masalah dari anak-anak didik dan berfungsi preservation, memelihara situasi-situasi yang baik dan menjaga supaya situasi-situasi itu tetap baik. Bimbingan berfungsi mengembangkan secara maksimal apa yang dimiliki anak didik dan apa yang telah dicapainya. Dimana usaha-usaha yang bersifat preventif adalah berusaha menghindarkan atau mencegah terjadinya  pengaruh-pengaruh yang buruk dan menimbulkan masalah-masalah pada diri anak didik, memelihara situasi-situasi yang baik dan menjaga supaya situasi-situasi yang baik itu tetap baik. Sedangkan usaha pengembangan adalah mencoba untuk mengembangkan serta menumbuhkan cara berfikir dan bertingkah laku yang dapat membantu anak didik mengembangkan dirinya secara maksimal. Pengembanagan ini sudah barang tentu disesuaikan dengan berbagai kemungkinan yang ada pada diri anak serta lingkungannya.
Pengembangan diri inilah inti dari layanan bimbingan dan konseling. Oleh karena itu bimbingan dan konseling bukan hanya menangani siswa yang bermasalah saja, namun juga membantu para siswa untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Lebih dari itu misi utama bimbingan dan konseling adalah menjadikan orang lain sukses dan bahagia. Pengembangan diri secara optimal diharapkan dapat mengantarkan seseorang menuju kesuksesan.
Fungsi pemeliharaan berarti memlihara segala sesuatu yang baik yang ada pada diri individu, baik hal itu merupakan pembawaan maupun hasil-hasil perkembangan yang telah dicapai selama ini. Intelegensi yaang tinggi, bakat yang istimewa, minat yang menonjol untuk hal-hal yang positif dan produktif, sikap dan kebiasaan yang telah terbian dalam bertinfak dan bertingkah laku sehari -hari, cita-cita yang tinggi dan cuklup realistik, kesehatan dan kebugaran jasmani, hubungan sosial yang harmonis dan dinamis, dan berbagai aspek pisitif lainnya dari individu perlu dipertahankan dan dipelihara. Bukan itu saja, lingkungna yang baik pun (lingkungan fisik, sosial dan budaya) harus dipelihara dan sebesar-besarnya dimanfaatkan untuk kepentingan individu dan orang lain. Jangan sampai rusak ataupun berkurang mutu dan kemanfaatannya.
Apabila berbicara tentang “pemeliharaan”, maka pemeliharaan yang baik bukanlah sekedar mempertahankan agar hal-hal yang dimaksudkan tetap utuh, tidak rusak dan tetap dalam keadaan semula, melainkan juga mengusahakan agar hal-hal tersebut bertambah baik, kalau dapat lebih indah, lebih menyenangkan, memiliki nilai tambah dari pada waktu-waktu sebelumnya. Pemeliharaan yang demikian itu adalah pemeliharaan yang membangun, pemeliharaan yang memperkembangkan. Oleh karena itu fungsi pemeliharaan dan fungsi pengembangan tidak dapat dipisahkan. Bahkan keduanya ibarat dua sisi dari mata uang. Jika sisi yang satu tidak ada atau cacat, maka mata uang itu secara keseluruhan tidak mempunyai nilai nilai lagi. Kedua sisi berfungsi seiring dan saling menunjang.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling fungsi pemeliharaan dan pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengaturan, kegiatan, dan program. Misalnya disekolah, bentuk dan ukuran meja murid disesuaikan sesuai ukuran tubuh (dan besarnya) serta sikap tubuh yang diharapkkan (tegap dan gagah). Fentilasi, suhu, bentuk, dan susunan ruang kelas diusahakan agar mereka yang berada diruang itu merasa nyaman, betah dapat melakukan kegiatan dengna tenang dan sepenuh semangat. Letak duduk anak-anak dalam kelas setiap kali diubah (misalnya setiap catur wulan atau semester) agar unsur-unsur organisme anak-anak itu (misalnya arah dan jarak pandangnan, kemampuan mendengar, sikap dan arah menghadapkan tubuh) tidak berkembang kearah yang menyimpang. Aturan disiplin dibuat sedemikian rupa, sehingga disatu sisi tidak kaku atau membosankan dan sisi lain tidak menciptakan suasana keributan dan kesimpang siuran. Tempat buang air dan membersihkan diri tersedia secukupnya agar kesehatan dan kebersihan terjaga. Kegiatan kelompoik belajra dijaga kelangsungannya dan dikembangkan sebagai salah satu arah kegiatan belajar para siswa di luar kelas. Penjurusan dan penempatan siswa pada program-program akademik dan kokulikuler atau ekstrakulikuler disesuaikan kemampuan, bakat dan minat siswa. Program penilaian dan apresiasi kemampuan dan prestasi siswa diorientasikan pada prinsip “maju berkelanjutan”.
Contoh-contoh diatas baru menyebut beberapa dan secara garis besar berkenaan dengan kehidupan siswa disekolah. Pengaturan, kegiatan dan program-program lain yang mengacu pada fungsi bimbinga dan konseling tersebut dapat disusun dan dikembangkan dalam jenis dan jumlah yang bervariasi dengan kemungkinan yang tidak terbatas. Demikian pula dengna berbagai jenis pengaturan, kegiatan dan program untuk siswa berkenaan dengan keluarganya dan lingkungannnya yang lebih luas.
Sejalan dengan  apa yang dapat dilakukan dalam pelayanan terhadap siswa itu, penyelenggaraan fungsi pemeliharaan dan pengembangan terhadap klien-klien dan lingkungna luar sekolah dapat melalui pengaturan , kegiatan dan program berkenana dengna disiplin, kesehatan, sarana ruangan dan kelengkapan kerja, keadaan rumah tangga dan keluarga, kegiatan waktu senggang, dan lain sebagainya, sesuai dengna permasalahan klien yang bersangkutan.
Tugas-tugas dan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan, apalagi pemeliharaan dan pengembangan individu manusia yang segenap aspek dan sangkut pautnya sangat bervariasi dan kompleks, tidak dapat berdiri sendirri. Demikianlah, fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam bimbingan dan konseling tidaklah mungkin berdiri sendiri. Dengan contoh-contoh diatas menjadi jelas bahwa :
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam suatu kegiatan atau program bimbingan dan konseling sebenarnya terkait langsung pada ketiga fungsi yang lain (pemahaman, pencegahan, pengentasan); bahkan sering kali untuk dapat terpelihara dan terkembangnya aspek-aspek tertentu pada diri klien perlu dipersarati dengan keberhasilan fungsi-fungsi pemahaman, pencegahan, dan pengentasan.
Dalam menjalankan fungsi pemeliharaan dan pengembangan itu konselor sering kali tidak dapat berjalan sendiri, melainkan perlu bekerjasama dengan pihak-pihak lain. Misalnya, penyediaan meja atau kursi dan ruangan kelas yang memenuhi standar kesehatan dan perkembangan anak-anak disekolah, sekaligus menjadi wahana pelaksanaan fungsi-fungsi pemahaman (pemahaman pihak-pihak tertentu tentang pentingnya meja atau kursi dan ruangan kelas standar pemahaman seperti itu perlu dibangkitkan oleh konselor), fungsi pencegahan ( terjegahnya anak-anak dari pertumbuhan atau perkembangan yang tidak di inginkan), fungsi pengentasan (terentaskanya berbagai masalah yang timbul sebagai akibat sarana pendidikan yang tidak standar itu yang ada sebelumnya), serta fungsi pemeliharaan dan pengembangan.
Lebih jauh, untuk tersedianya meja atau kursi dan ruangan kelas yang memenuhi standar kesehatan dan perkembangan itu, konselor harus bekerjasama dengan guru, kepala sekolah, orang tua(organisasi orang tua dan murid), dan bahkan mungkin perlu dengan pejabat diluar sekolah yang berkepentingan dan menjadi sumber bagi pengadaan sarana sekolah. Untuk keperluan itu konselor sering kali harus melakukan “strategi politik” demi kepentingan murid-murid yang menjadi tanggung jawabnya itu. Demikian juga dengan kegiatan dan program-program lainya, baik untuk siswa-siswa atau klien-klien disekolah maupun diluar sekolah.









DAFTAR PUSTAKA

Mugiarso, Heru. 2011. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Unnes Press.
Prayitno. 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar